Minggu, 22 Januari 2012

BUANGLAH SAMPAH PADA 'TEMPATNYA'?

Buanglah Sampah Pada Tempatnya
Kata-kata yang sudah begitu akrab di telinga dan mata kita ini merupakan suatu kalimat perintah yang sebenarnya sudah sangat ringkas padat dan jelas, namun sayang nasibnya seperti ‘kasus bank century’ (udah tau penting tapi nggak dipedulikan dan malah pura-pura lupa).

Di negeri kita yang konon tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman ini, masalah buang sampah sembarangan adalah suatu masalah besar yang paling sulit ditangani. (mungkin sampah juga dianggap bisa jadi tanaman?)
Nggak usah jauh-jauh, coba tengok diri kita sendiri, apa yang akan kita lakukan setelah memakan sebungkus permen? Bagaimana nasib bungkus plastik dari jajanan yang sudah kita makan? Kemanakah perginya gelas plastik dari air mineral yang telah kita minum? Bungkus permen atau plastik tersebut secara tidak sadar telah kita lemparkan entah kemana dengan sangat santai tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.


Padahal berita-berita di TV dan juga guru saya berkata, sampah-sampah yang bertebaran dengan indah sejauh mata memandang itu adalah salah satu penyebab utama bencana alam yang sering kita kenal dengan istilah tsunami, eh, banjir. 

Kenapa demikian?
Ada sebuah ciptaan cemerlang dari nenek moyang kita yang namanya SELOKAN (yang gak tau, bahasa gaulnya GOT), fungsinya adalah mengalirkan air kotor ke sungai / kali, lalu nantinya akan diteruskan ke laut.


Hayooo, sekarang kalau banyak sampah bertebaran apa yang akan terjadi??
Pinteeer, sampah-sampah tersebut akan ikut mengalir bersama air menuju muara selokan, lalu sampah-sampah tersebut akan menumpuk di suatu titik tertentu dan menyumbat jalannya aliran air, sehingga air gagal dalam misi nya menuju ke sungai.


Terus kalau air tersumbat gimana? Jawabanya = BANJIR


Selain menyebabkan banjir, kalau kita rasakan sendiri, sampah-sampah yang bertebaran dijalanan akan membuat suasana lingkungan kita menjadi tidak nyaman. Pemandangan menjadi tidak enak, bibit-bibit penyakit berkembang biak dengan merdeka, aroma ‘khas’ yang mengganggu suasana, dan lain lain.

Sudah saya katakana tadi, tangan kita secara otomatis akan langsung membuang sampah begitu saja, kapanpun, dimanapun, selama ada sampah yang bersentuhan dengan tangan. Itu terjadi karena buang sampah sembarangan sudah menjadi kebiasaan masyarakat yang melekat erat dan susah dilepaskan. Sangat sulit bahkan hampir mustahil untuk menghilangkan kebiasaan ini. Karena buktinya, sudah dilakukan berbagai upaya dalam penyuluhan dan penyebaran ideology “buanglah sampah pada tempatnya” tapi masih saja masalah ini tidak lekas mereda.

Saya punya tanggapan lain tentang hal ini;
saat saya sedang berada di jalanan pasar kota dan membawa bungkus plastik bekas batagor yang habis saya makan, terjadi ke’galau’an dalam otak saya. Tangan saya tanpa kendali ingin segera melemparkan bungkus plastik tersebut, namun ada malaikat yang berbisik “BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA” segera saya menengok kanan dan kiri, sejauh mata memandang saya tidak melihat satupun TEMPAT SAMPAH (padahal di pasar), tapi setelah itu pandangan saya tertuju pada sebuah spot (tepatnya di bawah tiang listrik), di sana tumpukan sampah lebih banyak dari pada tumpukan sampah di spot-spot lain (trotoar, tengah jalan, selokan, depan toko, dll), setan pun mengambil kesempatan yang tepat untuk berkata “buanglah sampah pada tempatnya, tau tempatnya dimana? Di situ tuh” lalu tangan saya tiba-tiba mengayun dan melemparkan bungkus plastik tersebut tanpa kendali (lebay dikit). Akhirnya saya menyesal “kenapa sih saya begitu malas dan tidak mau menyimpan bungkus batagor tadi sampai menemukan tempat sampah” setan pun membalas “nggakpapa, malas itu sifat dasar orang Indonesia, wajar kalo kamu nggak mau repot-repot nyimpen sampah” malaikan lalu berkata “untuk kali ini saya setuju sama setan”. Namun tentu saja saya nggak setuju sama mereka berdua, karena saya percaya semua orang pasti bisa berubah, biar kata itu SIFAT DASAR, tapi kalau itu jelek saya akan berusaha untuk menghilangkan sifat dasar yang jelek tersebut. (*applause)


Jadi intinya, KITA KEKURANGAN TEMPAT SAMPAH, sehingga segala tempat akan dengan se’enaknya dijadikan tempat sampah. Niat baik yang tadinya akan bersinar, tiba-tiba redup kembali karena tidak menemukan tempat sampah terdekat. Mungkin ini sebabnya kita sulit berubah, kita terbiasa tidak menemukan tempat sampah, malas menyimpannya dulu, dan akhirnya terbiasa untuk membuang nya di spot yang ‘seperti tempat sampah’. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, masyarakat tidak akan bisa membedakan antara tempat sampah dan tempat umum.

Namun, setelah dilakukan upaya penambahan jumlah tempat sampah, masalah lain muncul. Tempat sampah yang semakin banyak di letakan di setiap sudut mata memandang, tiba-tiba tidak lagi terlihat. Mentalitas lemah masyarakat KERE dan GOBLOK telah menghambat kita untuk maju. Mereka merusak fasilitas-fasilitas umum, sebagian besar tidak hanya sekedar merusak tetapi juga MALING (gila, tempat sampah aja dimaling). Akhirnya, kemajuan pun gagal terjadi (lagi).


Saya bukan seorang ahli dalam bidang ini, jadi tidak bisa memberikan solusi yang realistis. Tapi menurut saya harus dibuat tempat sampah yang tahan rusak, tidak bisa dimaling dan tersebar dengan rapi di jalan-jalan kota. Entah tempat sampah macam apakah itu, yang ada di otak saya adalah tempat sampah yang terbuat dari beton atau semen atau mungkin baja atau bisa juga robot.

:D